Jumat, 01 Mei 2015

Membangun Kampung Wisata Berbasis Komunitas


Membangun Kampung Wisata Berbasis Komunitas Sebagai Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyakarat dan Memperluas Destinasi Wisata
 Sebagaimana kita ketahui bersama, pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat yang membawa konsekuensi logis adanya berbagai dampak terhadap masyarakat setempat, baik dampak positif terutama dalam konteks peningkatan ekonomi wilayah, maupun dampak negatifnya seperti terjadinya kesenjangan pendapatan antara komunitas masyarakat lokal dengan pemilik modal besar yang memiliki asset terhadap fasilitas wisata seperti hotel, resort, dan restaurant di suatu wilayah, dan biasanya dalam konktes tersebut masyarakat atau komunitas lokal hanya menjadi penonton bukan pelaku utama dan penerima manfaat dari sektor pariwisata .

Membangun Kampung Wisata Berbasis Komunitas
Kampung Wisata, dikembangkan sebagai upaya untuk membangun ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata di suatu wilayah. Dengan konsep ini, diharapkan dapat menstimulasi perkembangan sektor lain yang terkait di wilayah tersebut. Wisata Kampung, merupakan alternatif wisata budaya atau tradisi yang diharapkan memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan berbagai sektor kehidupan masyarakat di wilayah tersebut, terutama peningkatan ekonomi melalui peningkatan pendapatan dari komunitas dari kegiatan kunjungan wisata.
Idealnya Desa wisata atau Kampung wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993)
Menurut beberapa pakar pariwisata, terdapat dua konsep yang utama dalam komponen kampung  wisata  yaitu : (1)  Akomodasi sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk; (2)  Atraksi: seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus membatik, kegiatan seni karawita, seni tari, festival kesenian tradisional, festival dolanan bocah, event bersih kampung, dan atraksi-atraksi lain yang spesifik dan unik. .
Pengembangan dari kampung wisata berdasarkan dari  hasil-hasil studi terkait desa wisata ada  pendekatan dalam menyusun konsep kerja dari pengembangan sebuah kampung biasa menjadi kampung wisata. Pertama, Pendekatan pasar, dengan tiga macam model yakni ,
(1)   Model Interaksi tidak langsung, model pengembangan ini didekati dengan cara bahwa kampung mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi semisal : penulisan atau promosi dalam bentuk buku, website, brosur , kartu pos tentang suatu kampung lengkap dengan gambaran tentang  kehidupan masyarakatnya,  seni dan budaya lokal, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, dan sebagainya;
(2)   Model Interaksi setengah langsung, model ini sudah lebih maju dengan mengundang wisatawan untuk berkunjung dalam bentuk kegiatanone day trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk;
(3) Model Interaksi Langsung, model ini memungkingkan wisatawan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Di sisi lain berdasarkan daya dukung masyarakat dan potensi dari kampung dapat dikembangkan model alternatif lain berupa pengabungan dari model pertama dan kedua (UNDP and WTO. 1981)

Berangkat dari pendekatan pertama tersebut, ada beberapa kriteria terkait kampung wisata antara lain :
(1)    Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup kondisi alam, seni dan budaya komunitas setempat, kegiatan produksi, seperti kerajinan batik, kerajinan perak, dan atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik, unik dan atraktif di kampung tersebut;
(2)    jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kampung wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibu kota propinsi dan jarak dari ibu kota kabupaten/kota:
(3)    Besaran atau luasan Kampung atau desam yang mencakup masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik dan luas wilayah kampung.  kriteria ini berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu kampung/desa;
(4)     Sistem kepercayaan dan social, merupakan aspek penting mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada sebuah komunitas di kampung;
(5)     Ketersediaan infrastruktur yang meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya.

Kriteria-kriteria di atas, dapat digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu kampung  dan selanjutnya dapat ditentukan apakah suatu desa akan menjadi kampung dengan tipe berhenti sejenak, tipeone day trip atau tipe tinggal inap.
Pendekatan kedua, adalah pendekatan fisik untuk pengembangan kampung wisata, pendekatan ini merupakan solusi yang umum dalam mengembangkan suatu kampung  melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi. Beberapa model dalam pendekatan adalah ;
  1. Melakukan konservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum kampung untuk menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut;
  2. Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi di dalam wilayah kampung tersebut yang dioperasikan oleh komunitas setempat sebagai industri skala kecil, seperti membangun home stay, fasilitas rekreasi (sarana out bond, outing game, ruang terbuka hijau, lokasi wisata kuliner, ruang pertemuan, dll)

Berkaca dari pendekatan tersebut, Desa Umpungeng akan segera memantapkan diri untuk memenuhi kriteria sebagai sebuah Desa Wisata yang mampu membangun konsep kampung wisata berbasis komunitas mengingat beragamnya  potensi yang ada pada setiap kampung yang ada di Desa Umpungeng. Namun untuk mewujudkan hal tersebut butuh dukungan semua pihak, baik pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat sendiri. Sehingga sektor pariwisata yang berkembang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat tidak hanya sekedar untuk meningkatkan PAD.



0 komentar:

Posting Komentar